Dua Siswa Penerima KIP Ikut Olimpiade Penelitian Internasional ke Amerika

Nurul Gafur, Siap Sambut Presiden dengan Cita-citaku

Kemendikbud — Keterbatasan ekonomi tidak membuat Satria dan Radikia,

dua siswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP), putus asa dalam menuntut ilmu. Sebaliknya, dua siswa SMA asal Bali itu berhasil terpilih mewakili Indonesia dalam ajang olimpiade penelitian internasional di Amerika, pada tanggal 14-19 Mei 2017.

Bagus Putu Satria Suarima Putra dan Made Radikia Prasanta adalah siswa kelas XI di SMA Negeri Bali Mandara, Bali. Pada tahun 2016 lalu, mereka menjadi pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) dengan menciptakan psychrometer, yaitu alat untuk memprediksi cuaca. Proposal penelitian mereka di ajang OPSI 2016 lalu dikembangkan, dan lolos menjadi salah satu makalah terbaik sebagai Finalis Intel-International Science Engineering Fair (ISEF) tahun 2017 mewakili Indonesia.

Alat pengukur cuaca (psychrometer) yang diciptakan Satria dan Radikia saat ini telah dikembangkan,

sehingga data yang dikeluarkan lebih akurat dan dapat dipantau dari jarak jauh dengan menggunakan ponsel pintar (smartphone) atau komputer. Radikia mengatakan, psychrometer yang diciptakannya bersama Satria menggunakan sensor khusus untuk mengukur tekanan udara, suhu udara, dan kelembaban udara dari lingkungan sekitar.

“Semua data itu kemudian diproses dengan prosesor yang ada di psychrometer buatan kami, lalu diproses jadi data informasi cuaca, menggunakan rumus-rumus dari kajian ilmu kebumian dan geografi. Sedangkan pembuatan alat psychrometernya menggunakan ilmu elektronika,” jelas Radikia usai pertemuannya dengan Mendikbud Muhadjir Effendy di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Jumat (12/5/2017).

Satria, rekan satu timnya, menjelaskan latar belakang yang menjadi inspirasi mereka

dalam membuat psychrometer. “Satria mengatakan, kondisi cuaca di daerahnya di Kabupaten Buleleng, sulit diprediksi. Hal itu memberikan dampak negatif bagi masyarakat yang mata pencahariannya bergantung kepada kondisi cuaca.

“Banyak petani yang kerugian panen, karena mengalami kekeringan. Lalu masyarakat yang bekerja di bidang industri tradisional seperti membuat kerupuk juga susah memprediksi cuaca untuk memproduksi bahan-bahan dasar membuat kerupuk,” tutur Satria yang kedua orang tuanya memiliki mata pencaharian sebagai pedagang kerupuk.

Satria dan Radikia adalah siswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) dari SMA Negeri Mandar, Bali. Kedua orang tua Satria mencari nafkah dengan berjualan kerupuk, sekaligus memproduksi sendiri bahan-bahan dasar untuk membuat kerupuk. Orang tua Radikia pun bekerja dengan penghasilan yang tak menentu.

“Ibu jadi buruh harian di pabrik roti. Upahnya sekitar Rp60.000 sampai Rp70.000 sehari. Kalau ayah tukang pijat panggilan. Jadi jika dapat telepon dari orang akan memenuhi panggilan untuk memberikan jasa pijat,” ujar Radikia.

Sebagai penerima KIP, keduanya merasa beruntung dan bersyukur bisa mendapatkan bantuan pendidikan dari pemerintah. Mereka mengaku, KIP yang diterimanya dimanfaatkan dengan baik untuk membantu memenuhi kebutuhan belajar atau sekolah, seperti membeli buku, tas, atau sepatu. Bahkan mereka masih bisa menyisihkan dana KIP untuk ditabung.

Kepada teman-teman di seluruh Tanah Air, khususnya para siswa penerima KIP, Satria dan Radikia berpesan agar jangan mudah putus asa dalam menuntut ilmu dan meraih cita-cita. “Jadikan kemiskinan sebagai semangat untuk bangkit agar jadi lebih baik,” ujar Satria yang bercita-cita menjadi menteri di bidang teknologi atau klimatologi. Sementara Radikia memilih bercita-cita sebagai technopreneur, pengusaha di bidang teknologi.

Keduanya akan berangkat ke Los Angeles, Amerika Serikat, untuk mengikuti olimpiade penelitian internasional yang diselenggarakan Intel ISEF. Intel ISEF merupakan kegiatan kompetisi terbesar pra-perguruan tinggi tingkat dunia untuk mempertemukan lebih dari 1.700 hasil karya penelitian siswa sekolah menengah dari 78 negara. Semoga sukses! (Desliana Maulipaksi)

 

Sumber :

https://merkterbaik.com/